Semester pertama 2026 memberikan satu pelajaran penting bagi banyak brand di Indonesia: pertumbuhan bukan lagi soal hadir di banyak channel, tetapi soal bagaimana setiap channel bekerja sebagai satu ekosistem yang terhubung.
Di Power Commerce Asia, kami melihat perubahan pola yang cukup signifikan dari berbagai brand yang menjalankan strategi omnichannel sepanjang enam bulan terakhir. Konsumen bergerak semakin cepat antar platform. Menemukan produk di TikTok, membandingkan harga di marketplace, lalu melakukan pembelian melalui website atau toko offline. Namun di sisi lain, banyak bisnis masih mengelola setiap channel secara terpisah.
Masalahnya bukan kurang channel. Masalahnya adalah kurang sinkronisasi.
Omnichannel Bukan Lagi “Tambahan”, Tapi Infrastruktur Bisnis
Banyak brand masih memandang omnichannel sebagai strategi marketing. Padahal di lapangan, omnichannel hari ini lebih dekat dengan operational infrastructure.
Ketika traffic campaign meningkat, tantangan terbesar justru sering muncul di belakang layar:
- stok tidak sinkron,
- fulfillment melambat,
- customer service kehilangan konteks,
- hingga performa ads menjadi tidak efisien karena data antar channel tidak terhubung.
Di semester pertama ini, kami melihat brand dengan pertumbuhan paling stabil bukan selalu yang memiliki budget terbesar, tetapi yang memiliki integrasi operasional paling rapi.
Artinya, keputusan commerce hari ini tidak bisa lagi berdiri sendiri antara tim marketing, marketplace, warehouse, dan customer experience. Semua harus bergerak dalam ritme yang sama.
Marketplace Masih Kuat, Tapi Margin Menjadi Fokus Baru
Pertumbuhan marketplace masih menjadi tulang punggung ecommerce Indonesia. Namun ada perubahan pola yang mulai terasa: brand mulai lebih berhati-hati mengejar volume tanpa mempertimbangkan profitability.
Diskon besar dan perang harga memang masih efektif untuk mendorong transaksi jangka pendek. Tetapi di semester pertama 2026, banyak brand mulai menyadari bahwa pertumbuhan yang sehat datang dari operational efficiency dan customer retention, bukan hanya campaign agresif.
Brand yang mampu mengurangi friksi operasional biasanya memiliki ruang lebih besar untuk menjaga margin tetap sehat.
Kecepatan Fulfillment Kini Mempengaruhi Performa Marketing
Salah satu insight terbesar yang kami lihat tahun ini adalah bagaimana performa logistik mulai berdampak langsung terhadap efektivitas marketing.
Dulu, fulfillment dianggap tahap akhir setelah penjualan terjadi. Sekarang, fulfillment justru ikut menentukan performa campaign.
Mengapa?
Karena algoritma marketplace dan platform commerce semakin memperhitungkan experience secara keseluruhan:
- kecepatan pengiriman,
- tingkat pembatalan,
- performa SLA,
- hingga kualitas pelayanan setelah checkout.
Artinya, iklan yang baik tidak akan bekerja maksimal jika operasional di belakangnya tidak siap menampung demand.
Inilah mengapa strategi multi-fulfillment menjadi semakin penting, terutama bagi brand yang ingin scale secara nasional tanpa mengorbankan customer experience.
Data Tidak Lagi Sulit Didapat, Tetapi Sulit Disatukan
Banyak brand hari ini sebenarnya sudah memiliki data yang melimpah. Tantangannya bukan kekurangan data, melainkan fragmented visibility.
Setiap platform memiliki dashboard sendiri. Setiap tim memiliki KPI sendiri. Akibatnya, bisnis sering terlambat membaca gambaran besar.
Kami melihat kebutuhan terbesar brand di semester pertama 2026 bukan hanya analytics, tetapi decision clarity. Kemampuan mengubah data operasional menjadi keputusan bisnis yang cepat dan relevan.
Karena pada akhirnya, omnichannel yang efektif bukan sekadar hadir di banyak titik penjualan, tetapi memiliki satu sumber kebenaran yang bisa digunakan seluruh tim untuk bergerak lebih cepat.
Semester pertama 2026 menunjukkan bahwa masa depan omnichannel commerce bukan tentang menjadi “ada di mana-mana”, tetapi tentang membangun koneksi yang solid antara marketing, commerce, operasional, dan fulfillment.
Brand yang mampu menyatukan semua elemen tersebut akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bertumbuh di semester kedua. Terutama menjelang momentum commerce terbesar di akhir tahun.
Di Power Commerce Asia, kami percaya bahwa scaling modern commerce membutuhkan lebih dari sekadar penjualan. Dibutuhkan ekosistem end-to-end yang mampu menjaga performa bisnis tetap efisien, adaptif, dan sustainable di setiap channel.



