Skip links

Livestream Bukan Lagi Kanal Konten. Saatnya Melihatnya Sebagai Mesin Pertumbuhan Bisnis

Masih banyak brand yang masih memandang livestream sebagai aktivitas pendukung pemasaran. Tujuannya sering kali terbatas pada meningkatkan awareness, engagement, atau sekadar mengikuti tren marketplace.

Padahal, cara pandang tersebut mulai bergeser.

Saat ini, brand-brand dengan pertumbuhan tercepat tidak lagi memperlakukan livestream sebagai konten. Mereka memperlakukannya sebagai kanal penjualan yang memiliki strategi, proses operasional, indikator performa, dan target bisnis yang sama jelasnya dengan kanal penjualan lainnya.

Pertanyaannya bukan lagi, “Bagaimana mendapatkan lebih banyak penonton?”

Tetapi, “Bagaimana setiap penonton memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pembeli?”

Di Power Commerce Asia, inilah cara kami membangun strategi Livestream Commerce.

Livestream yang efektif bukan dibangun saat kamera menyala.

Sebagian besar keberhasilan sebuah livestream justru ditentukan sebelum sesi dimulai.

Brand yang berhasil biasanya memiliki kalender livestream yang konsisten, pemilihan produk yang berbasis data, promosi sebelum live, serta koordinasi yang erat antara tim marketplace, host, dan operasional. Dengan kata lain, livestream tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari keseluruhan strategi ecommerce.

Konsistensi juga menjadi faktor penting. Dibanding mengandalkan satu sesi livestream yang viral, jauh lebih efektif membangun ekspektasi pelanggan melalui jadwal yang rutin, tema yang berulang, dan host yang familiar. Ketika audiens tahu kapan harus kembali, peluang untuk membangun loyalitas dan meningkatkan repeat purchase menjadi lebih besar.

Jangan hanya mengejar traffic. Optimalkan retensi.

Banyak brand mengalokasikan anggaran besar untuk mendatangkan penonton, tetapi belum memiliki strategi agar mereka tetap bertahan hingga proses pembelian.

Padahal, beberapa menit pertama dalam livestream sering kali menjadi penentu.

Cara membuka sesi, urutan menampilkan produk, ritme penyampaian, interaksi host dengan audiens, hingga momentum memberikan promo memiliki pengaruh besar terhadap durasi menonton dan tingkat konversi.

Artinya, keberhasilan livestream tidak hanya bergantung pada jumlah orang yang masuk ke dalam sesi, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan perhatian mereka hingga akhirnya mengambil keputusan untuk membeli.

Data adalah aset terbesar setelah livestream selesai.

Kesalahan yang sering kami temui adalah menganggap livestream selesai ketika siaran berakhir.

Padahal, justru di situlah proses optimasi dimulai.

Setiap sesi menghasilkan insight yang dapat digunakan untuk meningkatkan performa berikutnya, seperti:

  • Jam dengan jumlah penonton tertinggi.
  • Produk yang paling banyak menarik perhatian.
  • Momen ketika audiens mulai meninggalkan livestream.
  • Produk dengan tingkat konversi terbaik.
  • Pola interaksi pelanggan selama sesi berlangsung.

Alih-alih mengulang formula yang sama, brand seharusnya menggunakan data tersebut untuk terus menyempurnakan strategi. Livestream berikutnya harus selalu lebih baik daripada sebelumnya.

Studi Kasus: Paseo × Power Commerce Asia

Pendekatan inilah yang kami terapkan bersama salah satu brand partner kami, Paseo, melalui Power Commerce Asia Livestream Commerce Solution.

Fokus kami bukan menciptakan satu sesi livestream yang viral. Fokus kami adalah membangun sistem yang mampu menghasilkan performa secara konsisten melalui strategi, marketplace management, operasional livestream, serta continuous performance optimization.

Dalam periode Semester 1 2025 hingga Semester 1 2026, pendekatan tersebut menghasilkan:

  • Peningkatan Orders sebesar 250%
  • Peningkatan Live Views sebesar 260%

Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar pencapaian. Angka tersebut menunjukkan bahwa ketika livestream dikelola sebagai bagian dari strategi commerce yang terintegrasi, hasil bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Saatnya Mengubah Cara Pandang terhadap Livestream Commerce

Masih banyak brand yang ragu berinvestasi pada livestream karena menganggapnya hanya cocok untuk kategori produk tertentu atau bergantung pada host yang populer.

Padahal, keberhasilan Livestream Commerce lebih banyak ditentukan oleh sistem operasional dibanding popularitas.

Ketika livestream terhubung dengan marketplace management, performance marketing, campaign planning, inventory readiness, hingga fulfillment, setiap sesi menjadi lebih terukur, lebih efisien, dan lebih mudah dioptimalkan dari waktu ke waktu.

Inilah alasan mengapa Livestream Commerce bukan lagi sekadar fitur di marketplace.

Ia telah berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan bisnis yang mampu menghubungkan awareness, engagement, conversion, hingga repeat purchase dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Di Power Commerce Asia, kami percaya bahwa livestream terbaik bukanlah yang memiliki penonton terbanyak.

Melainkan livestream yang dibangun dengan strategi yang tepat, didukung oleh data, dan mampu memberikan hasil bisnis yang dapat diulang secara konsisten.

Leave a comment