Selama bertahun-tahun, marketplace menjadi mesin pertumbuhan bagi banyak brand di Indonesia. Traffic sudah tersedia, proses transaksi semakin mudah, dan akses ke jutaan pelanggan bisa didapat dalam waktu relatif singkat.
Namun, memasuki 2026, ada satu perubahan yang semakin jelas: biaya berjualan di marketplace terus meningkat, sementara kompleksitas operasional juga semakin tinggi.
Per 1 Juni, penyesuaian biaya layanan di TikTok Shop menjadi salah satu contoh terbaru. Di saat yang sama, berbagai marketplace juga terus melakukan pembaruan struktur biaya, mulai dari komisi, biaya layanan, biaya administrasi, hingga biaya iklan. Belum lagi perubahan regulasi seperti Permendag yang menuntut brand untuk semakin adaptif terhadap dinamika industri.
Jika dilihat satu per satu, kenaikannya mungkin terlihat kecil. Namun ketika seluruh biaya tersebut diakumulasi, margin bisnis dapat tergerus secara signifikan.
Masalahnya Bukan Sekadar Biaya
Banyak brand masih menjadikan marketplace sebagai pusat seluruh aktivitas penjualannya. Padahal, tantangan terbesar bukan hanya biaya yang semakin tinggi.
Ketika seluruh penjualan bergantung pada satu ekosistem, bisnis juga ikut bergantung pada keputusan platform. Perubahan algoritma, kebijakan promosi, struktur komisi, hingga regulasi baru dapat langsung memengaruhi performa bisnis tanpa bisa dikendalikan oleh brand.
Artinya, semakin besar ketergantungan terhadap marketplace, semakin besar pula risiko bisnis yang harus ditanggung.
Diversifikasi Channel Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Strategi
Marketplace tetap menjadi kanal yang penting. Namun, marketplace seharusnya menjadi salah satu channel, bukan seluruh bisnis.
Brand yang memiliki pertumbuhan lebih berkelanjutan umumnya tidak hanya mengandalkan ecommerce marketplace. Mereka mulai membangun strategi omnichannel, yaitu menghadirkan pengalaman belanja yang terhubung di berbagai titik interaksi dengan pelanggan.
Diversifikasi ini dapat dilakukan melalui berbagai kanal, seperti:
- Marketplace untuk menjangkau volume dan akuisisi pelanggan.
- Website ecommerce (webcommerce) sebagai aset digital yang sepenuhnya dimiliki brand.
- WhatsApp Commerce untuk membangun komunikasi yang lebih personal dan mendorong repeat order.
- Aktivasi offline seperti pop-up store, bazaar, atau event untuk memperluas pengalaman brand sekaligus menjangkau pasar baru.
- Kanal digital maupun retail lainnya yang relevan dengan karakteristik pelanggan.
Pendekatan ini bukan sekadar menambah channel penjualan, tetapi membangun bisnis yang lebih tangguh. Ketika satu channel mengalami perubahan kebijakan atau penurunan performa, channel lain tetap dapat menopang pertumbuhan bisnis.
Saatnya Berpikir Lebih Besar dari Sekadar Marketplace
Marketplace akan terus berkembang. Regulasi dapat berubah. Struktur biaya pun akan terus beradaptasi mengikuti dinamika industri.
Karena itu, fokus brand seharusnya tidak lagi hanya mencari marketplace dengan biaya paling rendah atau traffic paling besar. Yang jauh lebih penting adalah membangun bisnis yang tetap dapat bertumbuh, apa pun perubahan yang terjadi di dalam ekosistem marketplace.
Jawabannya bukan meninggalkan marketplace, melainkan membangun strategi omnichannel. Marketplace tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pelanggan, namun perlu didukung oleh channel lain seperti web commerce, WhatsApp Commerce, social commerce, aktivasi offline, performance marketing, dan fulfillment yang terintegrasi. Ketika seluruh channel tersebut saling terhubung, brand memiliki kontrol yang lebih besar terhadap pertumbuhan bisnis, data pelanggan, dan pengalaman berbelanja secara menyeluruh.
Inilah yang kami yakini di Power Commerce Asia, Omnichannel bukan sekadar hadir di banyak channel, tetapi membangun ekosistem commerce yang saling terhubung sehingga setiap channel saling memperkuat, bukan berjalan sendiri-sendiri. Pada akhirnya, keunggulan sebuah brand tidak lagi ditentukan oleh performa di satu marketplace, melainkan oleh kemampuan membangun ekosistem bisnis yang lebih tangguh, lebih adaptif, dan siap bertumbuh dalam jangka panjang.



