Pertumbuhan ecommerce di Indonesia terus mencatatkan angka yang mengesankan. Namun dibalik pertumbuhan tersebut, brand menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Fragmentasi kanal penjualan, perubahan perilaku konsumen, serta tuntutan integrasi online dan offline membuat pengelolaan bisnis hari ini jauh lebih menantang dibanding beberapa tahun lalu.
Dalam konteks Indonesia, omnichannel tidak lagi bersifat opsional. Ia telah menjadi pondasi utama bagi brand yang ingin bertumbuh secara berkelanjutan, efisien, dan siap menghadapi perubahan.
Lanskap ecommerce Indonesia berkembang sangat cepat. Berdasarkan laporan Google–Temasek–Bain e-Conomy SEA, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui USD 130 miliar pada 2025, dengan ecommerce sebagai kontributor terbesar. Indonesia juga telah menjadi pasar ecommerce terbesar di Asia Tenggara dari sisi GMV. Namun, pertumbuhan ini berjalan beriringan dengan meningkatnya persaingan marketplace, naiknya biaya akuisisi pelanggan, tekanan margin akibat promosi, serta kompleksitas operasional lintas kanal.
Bagi banyak brand, tantangannya kini bukan lagi soal bagaimana masuk ke ecommerce, melainkan bagaimana mengelola ecommerce secara terintegrasi dan efisien.
Ekosistem ecommerce Indonesia sangat terfragmentasi. Brand umumnya hadir di berbagai marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan TikTok Shop, sekaligus mengelola website D2C, social commerce, live shopping, serta jaringan offline mulai dari modern trade hingga distributor dan reseller. Tanpa pendekatan omnichannel, fragmentasi ini sering memicu ketidakkonsistenan harga dan promo, stok yang tidak sinkron, risiko overselling, biaya fulfillment yang tidak efisien, serta data penjualan yang terpisah-pisah.
Omnichannel memungkinkan seluruh kanal tersebut terhubung dalam satu ekosistem operasional yang terkontrol. Dengan visibilitas yang terpusat, brand dapat menjaga konsistensi pengalaman pelanggan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Perubahan perilaku konsumen Indonesia semakin menegaskan urgensi pendekatan ini. Riset dari McKinsey Indonesia dan Katadata Insight Center menunjukkan bahwa konsumen kini terbiasa berpindah antara online dan offline. Marketplace sering menjadi titik discovery, sementara transaksi dapat terjadi di kanal lain. Kecepatan pengiriman, ketersediaan stok, dan pengalaman yang konsisten menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian.
Bagi konsumen, kanal tidak lagi dipandang sebagai entitas terpisah. Mereka melihat brand sebagai satu kesatuan. Ketika pengalaman di satu kanal buruk, dampaknya langsung memengaruhi persepsi terhadap brand secara keseluruhan.
Di Indonesia, praktik online-to-offline (O2O) juga telah menjadi realitas sehari-hari. Promo marketplace dapat mendorong pembelian ulang di toko offline, order online sering dipenuhi dari warehouse terdekat, dan aktivitas digital semakin banyak mendukung performa distributor maupun pembeli B2B. Tanpa integrasi sistem yang matang, O2O justru berisiko menambah biaya dan kompleksitas operasional. Omnichannel memastikan seluruh alur mulai dari order, inventory, hingga fulfillment berjalan dalam satu sistem yang saling terhubung.
Sayangnya, banyak brand masih mengandalkan model kerja dengan vendor yang terpisah-pisah: satu untuk marketplace, satu untuk warehouse, satu untuk teknologi, dan satu lagi untuk channel offline. Model ini sering menciptakan minimnya visibilitas end-to-end, koordinasi yang lambat, KPI yang tidak selaras, serta biaya operasional yang terus meningkat seiring pertumbuhan bisnis.
Di sinilah peran partner omnichannel terintegrasi menjadi krusial. Dengan menggabungkan teknologi, fulfillment, marketplace operation, dan offline execution dalam satu kerangka kerja, brand dapat mengelola inventory secara terpusat, mengoptimalkan fulfillment secara nasional, serta mengambil keputusan berbasis data real-time tanpa menambah kompleksitas operasional. Power Commerce Asia membantu brand mengintegrasikan marketplace, D2C, warehouse & fulfillment, serta channel offline dalam satu ekosistem omnichannel yang saling terhubung didukung teknologi, infrastruktur nasional, dan eksekusi berbasis data. Pelajari lebih lanjut solusi omnichannel kami melalui bit.ly/pca-ask.



